1800-222-223-22 Contact@CharityhubWP.org

Berita

Kiprah Perempuan Maupe di Ranah Publik

Mehrunnisa memandangi para pria di bawah, tahu bahwa tak satu pun dapat melihat wajahnya. Kehidupannya ini, di balik cadar, punya kelebihan tersendiri. Tangannya terasa dingin. Inilah pertama kalinya seorang wanita dari harem kesultanan muncul di depan umum, terlindung dari pandangan di balik cadar, tapi kehadirannya begitu jelas……………Inilah pelajaran yang Mehrunnisa pelajari dengan segera, tentang bagaimana memiliki wajah pribadi dan wajah publik (Nur Jahan the Queen of Mughal karya Indu Sundaresan halaman19).

Mehrunnisa merupakan nama kecil dari Nur Jahan istri keduapuluh dari Sultan Jahangir salah satu sultan dari Kesultanan Mughal India, kerajaan Islam yang pernah jaya di masa lalu dimana Taj Mahal dibangun. Dalam buku The Queen of Mughal diceritakan bagaimana sepak terjang Nur Jahan dalam mempengaruhi kebijakan yang dibuat suaminya, salah satunya dengan turut hadir di Jharoka (balkon tempat berdiri sultan saat menyampaikan suatu kebijakan atau menerima petisi), yang saat itu pertama kali dilakukan oleh seorang perempuan. Sejak itu Nur Jahan memiliki peran penting dalam tiap peristiwa publik di Kerajaan Mughal.

Kisah diatas memang sudah banyak terjadi di era milenial ini, bahkan dari zaman ke zaman perempuan telah banyak menyumbangkan pemikiran dan karyanya di ranah publik, bukan sekedar penghuni ranah domestik yang berkutat dengan rumah dan keluarga apalagi penghias sangkar kaca, sebut saja tokoh nasional seperti R.A. Kartini, Cut Nyak Dien, Sri Mulyani, Megawati Soekarnoputri dan lain-lain mencatat nama mereka dengan warna yang terang di dunia yang biasanya didominasi oleh kaum pria. Tokoh internasional seperti Benazir Bhutto, Corazon Aquino, Margareth Thatcher, Gloria Macapagal Arroyo dan tokoh dunia lainnya berhasil mengguncang dunia dengan kiprah mereka di dunia publik.

Maupe sebagai Sayap menuju Ranah Publik

Mengenal dunia publik bagi seorang perempuan khususnya pada rural community (komunitas perdesaan) merupakan hal yang langka. Kebiasaan telah membawa tiap generasi khususnya di desa menganggap bahwa tugas perempuan hanyalah mengurus dapur, sumur dan kasur. Pembicaraan penting yang menyangkut masyarakat merupakan milik kaum pria di warung kopi, ruang tamu hingga balai desa, kaum perempuan hanya bertugas membuat minuman, menyuguhkannya dan kembali ke balik tirai. Ironisnya hal ini kerap terjadi di dunia kerja dan pendidikan, bila diadakan kegiatan, maka perempuan menempati posisi seksi konsumsi, jabatan sentral diisi oleh kaum pria, bahkan kerap diolok dengan jargon berbau kekerasan seksual, “Seksi sekali”

Kabupaten Maros merupakan daerah yang kebiasaannya masih kental dengan keberpihakan pada kaum pria dalam penentu keputusan publiknya, keterlibatan perempuan hanya terbatas pada ranah arisan, PKK dan Majelis Ta’lim serta beberapa kegiatan yang mengarus utamakan keseimbangan gender. Berangkat dari fenomena tersebut beberapa tokoh Maros membentuk suatu organisasi untuk menampung aspirasi perempuan Maros yaitu Maupe.

Mungkin masih sedikit di antara pembaca yang mengenal Maupe. Maupe merupakan organisasi perempuan di Kabupaten Maros, Sulawesi Selatan yang anggotanya terdiri dari berbagai profesi mulai dari ibu rumah tangga hingga politisi. Maupe sendiri merupakan akronim dari Masyarakat untuk Perempuan namun dalam bahasa daerah setempat berarti “Beruntung”.

 

Perempuan dan Politik

Program andalan Maupe adalah SPPM (Sekolah Politik Perempuan Maupe). SPPM merupakan sekolah politik untuk perempuan dimana di dalamnya diajarkan berbagai hal yang berkaitan dengan dunia politik. Materi berupa Publik Speaking, Kertas Kebijakan, Gender, Sejarah Politik disampaikan dalam bentuk teori dan praktek. Teori diberikan oleh pengajar yang kompeten dan berpengalaman di bidangnya, sedangkan praktek dilakukan dengan berkunjung ke rumah wakil rakyat dan mengadakan diskusi terbuka juga dialog publik dimana peserta didik akan didaulat untuk mengutarakan pendapatnya. Masa pendidikan diakhiri dengan Outbound ke tempat wisata dengan melakukan permainan yang diharapkan mampu mengasah kekompakan dan kreatifitas peserta.

Hasilnya sungguh mencengangkan, peserta didik yang awalnya malu bahkan takut bersuara kini berani berbicara lantang pada setiap pertemuan yang diadakan di tempat mereka masing-masing, meski dengan menggendong anak mereka berani unjuk suara, menyuarakan kebutuhan dan keinginan mereka pada pemegang kekuasaan. Saat ini ratusan alumni SPPM tersebar di berbagai desa di Kabupaten Maros, mereka memegang fungsi sebagai penyelenggara pesta demokrasi, tenaga pendidik, aktivis mahasiswa, wirausaha, penulis, politisi, ASN dan beberapa peran penting lain dan tentu saja ibu rumah tangga yang cerdas.

Puncaknya, di tahun politik ini, Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu RI) menyerahkan sertifikat akreditasi sebagai salah satu lembaga pemantau pemilu di Sulawesi Selatan.

Penyerahan Plakat oleh Bawaslu kepada Perwakilan SPPM Maros

Gambar 1. Penyerahan Plakat oleh Bawaslu kepada Perwakilan SPPM Maros

Berpose bersama setelah penyerahan plakat

Gambar 2. Berpose bersama setelah penyerahan plakat

Pengukuhan SPPM sebagai Pengawas Pemilu 2019 oleh Bawaslu Maros

Gambar 3. Pengukuhan SPPM sebagai Pengawas Pemilu 2019 oleh Bawaslu Maros

Sosialisasi Pemilu oleh SPPM

Gambar 4

 

SPPM sedang melakukan sosialisasi Pemilu

Gambar 5

Pemantau Pemilu

Gambar 4,5 dan 6. Rangkaian kegiatan sosialisasi pemilu oleh alumni SPPM

Dunia Ilmu Pengetahuan

Selain merambah dunia politik perempuan Maupe juga mengepakkan sayap di dunia ilmu pengetahuan yaitu riset. Pada tahun 2018 Maupe bekerjasama dengan CIPG Jakarta dalam program VOICE melakukan riset tentang Kekerasan terhadap Perempuan di Kabupaten Maros. Dalam program ini tim riset dibekali dengan ilmu dalam meneliti fenomena di sekitarnya, riset ini sendiri menghasilkan berbagai penemuan yang dapat dijadikan acuan agar perempuan di Kabupaten Maros terhindar dari perilaku kekerasan.

 

IMG_1946

Rapat evaluasi riset yang selalu seru

Gambar 7 dan 8. Rapat evaluasi riset yang selalu seru

20190206_101002

Gambar 9. Sosialisasi Hasil Riset di SMA Negeri 9 Maros

   Dialog Publik di Maros FM

Gambar 10. Dialog di Maros FM

Penyerahan Buku Hasil Riset

Gambar 11. Penyerahan buku hasil riset dari CIPG ke Maupe

Foto Bersama, AcSi, Maupe dan CIPG

Gambar 12. Foto bersama setelah refleksi advokasi berbasis riset bersama ti riset Acsi Makassar, CIPG dan pendamping lokal

Apapun bentuknya perempuan Maupe telah mengepakkan sayapnya merambah dunia publik, semoga bisa menyumbangkan karya dan pikiran demi kesejahteraan masyarakat, khususnya Kabupaten Maros dan sekitarnya.

 

 

 

Leave a Reply